Site icon DetikMedia24

Akamai, Ancaman Siber Berbasis AI Kian Dominan di 2026

Akamai

Akamai, Ancaman Siber Berbasis AI Kian Dominan di 2026

Akamai Technologies Memproyeksikan Bahwa Serangan Berbasis AI Akan Menjadi Komponen Dominan Dalam Rangkaian Ancaman Digital Di Masa Depan. Mendorong perubahan besar dalam strategi pertahanan perusahaan dan organisasi di seluruh dunia.

Dalam laporan 2026 Cloud and Security Outlook yang di rilis akhir 2025, Akamai menyoroti bahwa teknologi AI tidak hanya di manfaatkan untuk memperkuat sistem pertahanan. Tetapi juga oleh pihak yang berniat buruk untuk mempercepat, mengotomatiskan, dan memperluas serangan siber. Serangan yang dulu membutuhkan waktu berminggu-minggu kini dapat di lakukan dalam hitungan jam berkat kemampuan otomatisasi AI.

Perubahan mendasar ini berarti organisasi yang masih mengandalkan pertahanan tradisional. Yang bergantung pada pemeriksaan manual dan pola lama—akan semakin tertinggal. Serangan AI bisa secara otomatis menemukan kelemahan, menyusun skenario serangan. Dan mengeksekusi eksploitasi tanpa banyak intervensi manusia. Akibatnya, respons pertahanan juga harus setara cepatnya jika tidak ingin tertinggal jauh Akamai.

Akamai, API Menjadi Target Utama Serangan

Salah satu temuan signifikan dalam laporan Akamai adalah pergeseran fokus ancaman ke Application Programming Interfaces (API). Yaitu antarmuka yang menghubungkan aplikasi dan data di sistem digital. Serangan terhadap API di perkirakan akan melampaui jumlah serangan web tradisional, karena semakin banyak aplikasi modern yang bergantung pada API untuk integrasi data dan layanan.

Menurut data yang di kumpulkan oleh Akamai, lebih dari 80 persen organisasi di kawasan Asia-Pasifik pernah mengalami setidaknya satu insiden keamanan API dalam setahun terakhir. Ironisnya, sebagian besar dari mereka bahkan tidak memiliki visibilitas penuh terhadap API yang mereka miliki, sehingga data sensitif bisa dengan mudah terekspos melalui celah yang tidak diketahui.

Serangan API biasanya menargetkan kelemahan autentikasi, otorisasi, dan validasi data. Ketika di gabungkan dengan kecerdasan buatan yang dapat mengeksekusi skrip secara otomatis dan pada skala besar, nilainya terhadap penjahat siber jauh lebih besar di bandingkan serangan web biasa.

Otomatisasi Serangan dan Ransomware yang Menggila

Selain serangan API, ancaman ransomware berbasis AI di prediksi semakin tersebar luas. Model-model ransomware masa kini tidak sekadar memblokir data—mereka bisa menyusun skrip berbahaya sendiri, melakukan enkripsi data di berbagai titik, bahkan beradaptasi ketika terdeteksi oleh sistem pertahanan konvensional. Laporan keamanan lain menunjukkan bahwa hingga akhir 2025 jumlah korban ransomware meningkat tajam. Dengan teknologi seperti PromptLock menjadi salah satu contoh malware yang dirancang menggunakan AI.

Lebih parahnya lagi, konsep Ransomware-as-a-Service (RaaS) di proyeksikan mengakselerasi serangan ini ke skala lebih besar karena pelaku tidak perlu memiliki keterampilan teknis tinggi untuk meluncurkannya. Hal ini memperbesar kemungkinan bahwa sektor-sektor seperti keuangan, kesehatan, dan pendidikan akan menjadi target utama serangan massal.

Tantangan dan Respon Pertahanan

Dengan ancaman yang semakin di dorong oleh AI, respons pertahanan pun harus berevolusi. Laporan Akamai menekankan bahwa organisasi harus mengadopsi strategi keamanan yang di dukung AI juga. Termasuk sistem deteksi otomatis, pembelajaran mesin untuk memprediksi pola ancaman. Dan penggunaan kerangka kerja seperti OWASP Top 10 untuk mengidentifikasi serta memitigasi celah API.  Selain itu, pendekatan keamanan modern juga mencakup:

Pelatihan dan literasi siber untuk membantu tim keamanan mengidentifikasi ancaman yang tidak konvensional

Kesiapan Organisasi Masih Menjadi Masalah

Meskipun ancaman meningkat, banyak organisasi masih belum siap secara penuh. Masih banyak perusahaan yang hanya mengandalkan pertahanan manual atau solusi tradisional yang tidak memadai menghadapi serangan yang bergerak pada kecepatan mesin. Hal ini semakin di perparah oleh keterbatasan talenta di bidang keamanan siber yang memadai serta fragmentasi dalam sistem pemantauan keamanan.

Ancaman siber berbasis AI akan menjadi salah satu tantangan terbesar yang di hadapi dunia digital di tahun 2026. Otomatisasi, API sebagai vektor serangan utama, serta evolusi malware dan ransomware yang lebih canggih menunjukkan bahwa lanskap ancaman telah berubah secara fundamental.

Exit mobile version