
BNI Bidik Pertumbuhan Kredit 10 Persen hingga Akhir 2026
BNI Atau PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Optimistis Mampu Mencatatkan Pertumbuhan Kredit Hingga Akhir 2026. Bank pelat merah tersebut menargetkan penyaluran kredit tumbuh di kisaran 8 persen hingga 10 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Target tersebut di dukung oleh permintaan kredit yang di nilai masih kuat, serta kondisi permodalan dan likuiditas BNI yang cukup memadai. Hingga semester I 2026, penyaluran kredit perseroan telah mencapai Rp968,5 triliun, atau tumbuh 7,7 persen secara year to date (YTD). Jika di bandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, angka tersebut meningkat 24,4 persen.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menyampaikan optimisme tersebut dalam Public Expose 2026 yang di gelar pada Rabu (9/9/2026). Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat dan dunia usaha terhadap pembiayaan masih cukup kuat.
Kredit BNI Tumbuh Positif pada Semester I 2026
Kinerja kredit menjadi salah satu penopang aktivitas bisnis BNI sepanjang paruh pertama tahun ini. Pertumbuhan yang telah di capai memberikan ruang bagi perseroan untuk mengejar target hingga penghujung 2026.
Permintaan Kredit Masih Kuat
Manajemen BNI melihat momentum permintaan kredit masih positif. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perseroan mempertahankan target pertumbuhan kredit pada kisaran 8-10 persen.
Meski demikian, Bank Negara Indonesia tidak ingin mengejar pertumbuhan secara agresif tanpa mempertimbangkan risiko. Penyaluran kredit tetap di lakukan dengan prinsip kehati-hatian agar ekspansi bisnis dapat berjalan secara sehat.
Pada semester I 2026, laba bersih BNI tercatat Rp10,8 triliun, meningkat 7 persen secara tahunan. Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) mencapai Rp22 triliun, tumbuh 14,2 persen YoY. Sementara itu, fee based income juga naik 14,2 persen menjadi Rp9 triliun.
Tantangan dari Margin Bunga Bersih
Di balik optimisme pertumbuhan kredit, BNI tetap menghadapi tantangan dari sisi margin bunga bersih atau net interest margin (NIM). Persaingan suku bunga kredit yang semakin ketat serta meningkatnya biaya dana pihak ketiga menjadi faktor yang dapat menekan margin.
Bank Negara Indonesia Proyeksikan NIM 3,3-3,5 Persen
Untuk 2026, Bank Negara Indonesia memproyeksikan NIM berada di kisaran 3,3 persen hingga 3,5 persen. Angka tersebut mencerminkan adanya tekanan terhadap margin akibat kondisi industri perbankan yang kompetitif.
Namun, manajemen menilai tekanan tersebut masih dapat di imbangi oleh pertumbuhan kredit. Hal ini terlihat dari Pre-Provisioning Operating Profit (PPOP) BNI yang tumbuh 14,5 persen YoY pada semester I 2026.
Strategi Bank Negara Indonesia Mengejar Target Kredit
Memasuki semester II 2026, BNI menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan kredit sekaligus mempertahankan kualitas bisnis.
Perkuat Dana Murah dan Digitalisasi
Salah satu fokus perseroan adalah meningkatkan penghimpunan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). BNI mengoptimalkan platform digital seperti wondr by BNI dan BNI Direct untuk meningkatkan transaksi sekaligus membantu mengendalikan biaya dana.
Selain memperkuat CASA, BNI akan menyalurkan kredit secara selektif dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian. Disiplin dalam menentukan harga kredit juga menjadi bagian penting agar ekspansi pinjaman tidak memberikan tekanan berlebihan terhadap margin.
Digitalisasi menjadi salah satu pendukung strategi tersebut. Hingga semester I 2026, wondr by BNI telah memiliki 15,1 juta pengguna, dengan jumlah transaksi mencapai 1,1 miliar dan nilai transaksi sekitar Rp958 triliun.
Dengan modal dan likuiditas yang dinilai memadai, Bank Negara Indonesia masih melihat peluang untuk mempertahankan momentum pertumbuhan kredit. Tantangan pada semester II adalah bagaimana mencapai target 8-10 persen sekaligus menjaga kualitas kredit dan profitabilitas.
Jika strategi tersebut berjalan sesuai rencana, ekspansi kredit Bank Negara Indonesia hingga akhir 2026 berpotensi tetap solid meskipun industri perbankan menghadapi persaingan suku bunga dan tekanan biaya dana.