Toprak Razgatlıoğlu

Toprak Razgatlıoğlu Akui Belum Pede, Takut Jatuh Saat Menikung

Toprak Razgatlıoğlu, Yang Baru Saja Melakukan Transisi Dari Dunia World Superbike (WSBK) Ke Kelas Utama MotoGP. Belum lama ini memberikan pernyataan yang jujur soal tantangan besar yang ia rasakan selama persiapan debutnya di ajang balap motor paling bergengsi di dunia. Meski memiliki segudang prestasi di WSBK sebagai juara dunia tiga kali, mantan pebalap Kawasaki dan BMW ini mengakui bahwa dirinya masih belum sepenuhnya percaya diri ketika harus menikung ekstrem dalam tes pramusim.

Toprak Razgatlıoğlu, yang sekarang membalap untuk tim Prima Pramac Yamaha, menyadari bahwa MotoGP bukan hanya soal kecepatan. Tetapi juga soal kepercayaan diri dan pemahaman karakter teknis motor serta kompon ban yang di gunakan. Pada tes pramusim di Sirkuit Internasional Chang, Buriram, Thailand, pekan lalu. Ia mengungkapkan bahwa ketidakpercayaannya terhadap ban depan Michelin menjadi kendala utama ketika berada di tikungan.

“Saat pengereman tidak ada masalah, tetapi ketika mulai miring, saya tidak tahu batasnya,” ungkap Toprak Razgatlıoğlu. Ia bahkan menyatakan bahwa ia sempat mengira rekannya, Jack Miller, akan terjatuh saat menikung tajam karena gaya balap yang ekstrem, sesuatu yang belum bisa ia lakukan sendiri.

Risiko Terjatuh Bagian dari Proses Belajar Toprak Razgatlıoğlu

Menariknya, meskipun belum menemukan rasa percaya penuh untuk merebahkan motor dengan agresif, Toprak belum pernah mengalami kecelakaan selama fase adaptasi tersebut. Namun, ia tidak menutup kemungkinan bahwa jatuh bisa menjadi bagian penting dari proses belajar untuk memahami batas kemampuan ban dan motor di MotoGP.

“Saya belum pernah jatuh, tetapi mungkin saya perlu jatuh untuk memahami limit sebenarnya,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Toprak memiliki respek tinggi terhadap teknis MotoGP. Ia juga sadar bahwa ia perlu memperluas zona kenyamanannya untuk berkembang.

Perbedaan Besar antara Superbike dan MotoGP

Toprak datang ke MotoGP dari dunia WSBK, di mana ban dan karakter motor berbeda jauh dengan yang ia temui di kelas premier. Selama bertahun-tahun di WSBK, Razgatlıoğlu terbiasa dengan ban Pirelli, yang menurutnya memberikan karakter yang berbeda di bandingkan ban Michelin yang di gunakan di MotoGP. Perbedaan ini membuat ia harus menyesuaikan gaya membalapnya secara signifikan.

Perubahan ini tentu bukan hal yang mudah bagi seorang juara dunia yang sudah terbiasa mendominasi balapan di Superbike. MotoGP memiliki tuntutan yang lebih tinggi dalam hal grip ban, pemahaman elektronik, serta gaya berkendara yang sangat agresif di tikungan.

Frustrasi dan Dukungan dari Rekan

Dalam beberapa pernyataannya, Toprak mengaku sedih karena catatan waktunya belum mencapai target yang ia harapkan selama tes. Ia terus mencoba memperbaiki diri, tapi hasilnya belum maksimal di bandingkan pembalap lain.

Namun, dukungan datang dari rekan-rekannya, termasuk Fabio Quartararo, yang memberikan kata-kata penyemangat untuk sang rookie. Quartararo mengingatkan bahwa adaptasi bukan soal hasil instan, tetapi proses berkelanjutan yang membutuhkan kesabaran dan waktu.

Tantangan untuk Musim 2026

Dengan musim MotoGP 2026 yang akan di mulai di Thailand seri pembuka di Sirkuit Chang Buriram. Toprak sekarang berfokus pada memperbaiki diri dari sesi ke sesi. Ia sadar bahwa transisi dari dunia WSBK ke MotoGP adalah langkah besar. Tetapi ia tetap optimistis dapat menemukan ritme dan kepercayaannya seiring waktu.

Perjuangan Toprak Razgatlıoğlu menunjukkan bahwa bahkan juara dunia sekalipun bisa merasa tidak siap ketika menghadapi tantangan baru di level yang lebih tinggi. Ketidakyakinan terhadap ban depan saat menikung bukanlah kelemahan. Tetapi bagian dari proses belajar yang intens menjelang debutnya di kelas premier MotoGP.